Perbandingan Program MBG Indonesia dengan Jepang dan Brasil
Nick Irwan
Penulis
SLN.com, JAKARTA- Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang dilaksanakan pemerintah Indonesia memicu berbagai tanggapan di media sosial. Sejumlah warganet menyoroti kesiapan infrastruktur sekolah, standar gizi, dan mekanis...
SLN.com, JAKARTA- Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang dilaksanakan pemerintah Indonesia memicu berbagai tanggapan di media sosial. Sejumlah warganet menyoroti kesiapan infrastruktur sekolah, standar gizi, dan mekanisme pengawasan.
Menurut laporan The State of School Feeding Worldwide 2022 dari World Food Programme (WFP), sekitar 418 juta anak di dunia menerima makanan sekolah pada tahun tersebut.
Di Jepang, program kyushoku (makan siang sekolah) berjalan sejak akhir abad ke-19 dan diatur melalui Undang-Undang Makan Sekolah 1954. Kementerian Pendidikan Jepang menetapkan standar: setiap sekolah memiliki dapur sesuai ketentuan, prosedur higienitas, serta pengawasan oleh ahli gizi di tingkat distrik.
Brasil menerapkan Program Nasional Pemberian Makanan Sekolah (PNAE) yang mewajibkan minimal 30 persen bahan baku dibeli dari petani lokal atau kelompok mereka. Regulasi federal mengatur hal ini, dengan pengawasan dilakukan oleh pemerintah daerah.
Di Indonesia, sejumlah sekolah belum memiliki dapur permanen sehingga distribusi makanan bergantung pada katering eksternal. Proses pengadaan dilakukan melalui tender.
Perbandingan tersebut menunjukkan perbedaan dalam infrastruktur, rantai pasok, dan mekanisme pengawasan antarnegara. Di Indonesia, Badan Gizi Nasional (BGN) membangun satuan pelayanan pemenuhan gizi (SPPG) untuk mendukung distribusi langsung.
Program MBG menargetkan puluhan juta penerima manfaat, termasuk anak sekolah, balita, ibu hamil, dan ibu menyusui, dengan target mencapai 82,9 juta penerima pada akhir 2026.
Nick Irwan
Penulis
Penulis berita profesional dari Suara Lintas Nusantara.
Komentar (0)
Login untuk memberikan komentar
Silakan login terlebih dahulu untuk memberikan komentar pada artikel ini.
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama memberikan komentar!
Kategori Terkait
Tagar Terkait
Artikel Terkait
Mandat yang Menyapa Lansia
12 Feb 2026, 08:01 WIB
Cuaca Ekstrem Ancam Distribusi, Mendag Perketat Pengawasan Pasokan Pangan Jelang Nataru 2025/2026
08 Dec 2025, 11:07 WIB
Targetkan Realisasi Hingga 98%, Menteri Nusron Laporkan Progres Capaian Anggaran dalam RDP Komisi II DPR RI
24 Nov 2025, 12:46 WIB
Mendag Busan Dorong Hilirisasi, Bidik Potensi Ekspor Gambir Bernilai Tambah
21 Nov 2025, 05:00 WIB
Buka Rakernas Pemantauan Bapok, Mendag Busan: Kredibilitas Data Fondasi Stabilitas Harga Bapok Nasional
21 Nov 2025, 04:50 WIB
Jelang Natal dan Tahun Baru, Mendag Busan Pastikan Harga Bapok Stabil dan Stok Cukup di Pasar Cihapit Bandung
21 Nov 2025, 04:20 WIB
Artikel Lainnya
Pewarna ID Bahas Festival Palalangon 2023 dengan Ketua Sinode GKP
07 Feb 2023, 23:44 WIB
Ketua KWI Berikan Cinderamata Kain Bentenan kepada Presiden RI di Natal Nasional 2024
28 Dec 2024, 13:43 WIB
“Marilah Sekarang Kita ke Betlehem” Sebagai Harapan Baru untuk Indonesia
30 Dec 2024, 11:39 WIB
Puasa Pertama Ramadan 1447 H
19 Feb 2026, 12:58 WIB
Madilog dan Proyek Rasionalitas di Tengah Pergulatan Ideologi
15 Feb 2026, 13:49 WIB
Pemilik Akun Youtube Herri Pras dan Ken Setiawan Dilaporkan
30 Jun 2023, 06:56 WIB
Artikel Lainnya
Pewarna ID Bahas Festival Palalangon 2023 dengan Ketua Sinode GKP
07 Feb 2023, 23:44 WIB
Ketua KWI Berikan Cinderamata Kain Bentenan kepada Presiden RI di Natal Nasional 2024
28 Dec 2024, 13:43 WIB
“Marilah Sekarang Kita ke Betlehem” Sebagai Harapan Baru untuk Indonesia
30 Dec 2024, 11:39 WIB
Puasa Pertama Ramadan 1447 H
19 Feb 2026, 12:58 WIB
Madilog dan Proyek Rasionalitas di Tengah Pergulatan Ideologi
15 Feb 2026, 13:49 WIB
Pemilik Akun Youtube Herri Pras dan Ken Setiawan Dilaporkan
30 Jun 2023, 06:56 WIB
