Ketika Angpao Tak Lagi Diselipkan di Amplop Merah
Nick Irwan
Penulis
SLN.com, JAKARTA — Pada perayaan Imlek beberapa tahun terakhir, pemandangan amplop merah yang berpindah tangan perlahan berbagi ruang dengan layar ponsel. Ucapan selamat tahun baru kini kerap disertai notifikasi transfer...
SLN.com, JAKARTA — Pada perayaan Imlek beberapa tahun terakhir, pemandangan amplop merah yang berpindah tangan perlahan berbagi ruang dengan layar ponsel. Ucapan selamat tahun baru kini kerap disertai notifikasi transfer dana atau kode QR yang dipindai dalam hitungan detik.
Angpao atau hongbao secara tradisional merupakan simbol doa dan harapan baik. Dalam praktik budaya Tionghoa, amplop merah berisi uang diberikan oleh yang lebih tua kepada yang lebih muda sebagai tanda keberuntungan dan perlindungan di tahun yang baru. Warna merah melambangkan kebahagiaan dan penolak bala, sementara nominal uang biasanya disesuaikan dengan makna angka yang dianggap membawa hoki.
Di Indonesia, tradisi ini telah berlangsung turun-temurun dalam keluarga Tionghoa, baik di rumah, kelenteng, maupun saat acara kumpul keluarga. Namun dalam beberapa tahun terakhir, terutama sejak pandemi COVID-19 mempercepat adopsi transaksi nontunai, pola pemberian angpao ikut berubah.
Data Bank Indonesia menunjukkan nilai transaksi uang elektronik dan QRIS meningkat signifikan sejak 2020, seiring kampanye Gerakan Nasional Non-Tunai. Laporan tahunan BI mencatat pertumbuhan transaksi digital yang konsisten setiap tahun, didorong oleh penetrasi ponsel pintar dan dompet digital.
Perubahan itu terasa hingga ruang keluarga saat Imlek. Sejumlah keluarga memilih mentransfer angpao melalui aplikasi perbankan atau dompet digital ketika tidak dapat berkumpul langsung. Praktik ini kemudian berlanjut meski pembatasan sosial telah dicabut.
Di beberapa kota besar seperti Jakarta, Surabaya, dan Medan, penggunaan angpao digital juga dipengaruhi faktor kepraktisan. Orang tua tidak perlu menyiapkan uang tunai dalam pecahan baru, sementara penerima dapat langsung menyimpan dana ke rekening.
Meski demikian, sebagian keluarga tetap mempertahankan amplop merah sebagai simbol fisik tradisi. Bagi mereka, penyerahan langsung disertai salam dan doa dianggap bagian penting dari makna perayaan.
Pengamat budaya dari sejumlah perguruan tinggi mencatat bahwa perubahan medium tidak selalu berarti perubahan makna. Dalam studi tentang adaptasi tradisi di era digital, para peneliti menyebut masyarakat Indonesia cenderung menggabungkan unsur lama dan baru mempertahankan simbol utama, tetapi menyesuaikan cara pelaksanaannya.
Fenomena serupa juga terjadi pada perayaan hari besar lainnya, ketika kartu ucapan bergeser menjadi pesan digital, atau sedekah dilakukan melalui transfer daring. Transformasi tersebut memperlihatkan bagaimana teknologi memengaruhi praktik sosial tanpa serta-merta menghapus nilai dasarnya.
Imlek, yang mengikuti kalender lunar dan dirayakan komunitas Tionghoa di berbagai daerah Indonesia, menjadi salah satu momen ketika dinamika itu terlihat jelas. Tradisi yang berakar pada simbol keberuntungan dan kebersamaan kini berdampingan dengan sistem pembayaran digital yang serba cepat.
Perubahan ini membuka pertanyaan yang terus bergulir setiap tahun: dalam masyarakat yang makin terdigitalisasi, apakah makna sebuah tradisi terletak pada bentuknya atau pada niat dan relasi yang menyertainya?
Nick Irwan
Penulis
Penulis berita profesional dari Suara Lintas Nusantara.
Komentar (0)
Login untuk memberikan komentar
Silakan login terlebih dahulu untuk memberikan komentar pada artikel ini.
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama memberikan komentar!
Kategori Terkait
Artikel Terkait
5 Kota dengan Populasi Etnis Tionghoa Terbesar di Indonesia
17 Feb 2026, 04:35 WIB
Imlek yang Tak Masuk Linimasa
16 Feb 2026, 13:19 WIB
Terungkap, Tradisi Tua Minahasa Ini Masih Bertahan di Tengah Zaman Modern
13 Feb 2026, 01:00 WIB
Wayang Kulit Milenial Jakarta Siap Guncang UNNES, Hormati Warisan Ki Narto Sabdo
17 Nov 2025, 09:33 WIB
Resepsi Pernikahan Treescha dan William: Harmoni Adat Toraja dengan Konsep Modern di Jakarta
05 Sep 2025, 03:19 WIB
Bedah Buku Kiai Sadrach Sebuah Perjalanan Kristen Jawa Tekankan Relevansi Penginjilan Berbasis Budaya
22 Mar 2025, 08:21 WIB
Artikel Lainnya
Serahkan Sertifikat ke Rumah Warga Desa Kemplong Pekalongan, Menteri ATR/Kepala BPN Bersyukur BPHTB Rp0
11 May 2023, 07:03 WIB
Mendag Busan Serahkan Bantuan Kemendag Peduli untuk Korban Bencana di Sumatra
01 Dec 2025, 13:48 WIB
Institut Leimena dan Sekolah-sekolah Kristen Latih Guru Pemahaman Literasi Keagamaan Lintas Budaya
28 Feb 2023, 11:38 WIB
Mendag Tegaskan Penguatan Perlindungan Konsumen dan Stabilitas Harga Jelang Nataru
27 Nov 2025, 06:38 WIB
Relawan Go-Tri dari Tiga Kelurahan Deklarasikan Dukungan untuk Pasangan “RIDHO” di Pilkada Bekasi 2024
20 Oct 2024, 12:36 WIB
Halalbihalal, Ketum Alfakes Ingatkan Pengurus dan Anggota Harus selalu Kompak
04 May 2023, 05:18 WIB
Artikel Lainnya
Serahkan Sertifikat ke Rumah Warga Desa Kemplong Pekalongan, Menteri ATR/Kepala BPN Bersyukur BPHTB Rp0
11 May 2023, 07:03 WIB
Mendag Busan Serahkan Bantuan Kemendag Peduli untuk Korban Bencana di Sumatra
01 Dec 2025, 13:48 WIB
Institut Leimena dan Sekolah-sekolah Kristen Latih Guru Pemahaman Literasi Keagamaan Lintas Budaya
28 Feb 2023, 11:38 WIB
Mendag Tegaskan Penguatan Perlindungan Konsumen dan Stabilitas Harga Jelang Nataru
27 Nov 2025, 06:38 WIB
Relawan Go-Tri dari Tiga Kelurahan Deklarasikan Dukungan untuk Pasangan “RIDHO” di Pilkada Bekasi 2024
20 Oct 2024, 12:36 WIB
Halalbihalal, Ketum Alfakes Ingatkan Pengurus dan Anggota Harus selalu Kompak
04 May 2023, 05:18 WIB
