Iklan
Beranda / Bisnis
💼 BISNIS

Pendeta dan Akuisisi SPBU Shell

Nick Irwan

Nick Irwan

Jurnalis

📅 02 Sep 2026
⏱️ 11:53 WIB
⏱️ 4 min read
Pendeta dan Akuisisi SPBU Shell

Siapa sangka, pengambilalihan SPBU Shell di Indonesia melibatkan seorang pengusaha yang juga adalah seorang pendeta?

SLNpost, Jakarta- Ada dua dunia yang sekilas seperti berjalan di jalur berbeda, mimbar gereja dan bisnis energi. Herman Soegeng menjalani keduanya selama hampir tiga dekade. Ia dikenal sebagai salah satu pendiri SEFAS Group, sekaligus aktif sebagai pastor di International Full Gospel Fellowship (IFGF) sejak 1998. Kini, nama SEFAS muncul dalam kesepakatan pengambilalihan bisnis SPBU Shell di Indonesia.

Profil profesional Herman Soegeng di LinkedIn mencatat keterlibatannya sebagai Minister di IFGF sejak Agustus 1998 hingga sekarang. Profil yang sama juga mencantumkan posisinya sebagai komisaris SEFAS Group.

Kesepakatan itu bukan transaksi kecil. Pada 23 Mei 2025, Shell mengumumkan pengalihan kepemilikan bisnis SPBU di Indonesia kepada perusahaan patungan baru yang dibentuk oleh Citadel Pacific Limited dan Sefas Group. Penyelesaian transaksi tetap menunggu persetujuan regulator dan pemenuhan persyaratan yang berlaku.

Dalam keterangannya, Shell menyatakan bahwa jaringan SPBU tersebut akan tetap menggunakan merek Shell melalui perjanjian lisensi. Shell juga memastikan pasokan bahan bakar tetap berasal dari perusahaan tersebut. Pengalihan ini mencakup sekitar 200 lokasi SPBU Shell di Indonesia serta terminal bahan bakar di Gresik.

Di balik transaksi tersebut ada perjalanan bisnis yang dimulai jauh sebelum nama SEFAS dikenal publik. Herman Soegeng bersama Ricky Roesli mendirikan SEFAS pada Oktober 1997. Herman kemudian tercatat sebagai komisaris perusahaan, sementara Ricky Roesli menjabat direktur utama.

Profil manajemen di situs resmi SEFAS menyebut Herman sebagai salah satu pendiri perusahaan. Ia meraih gelar Bachelor of Science in Business Administration dari Oklahoma State University pada 1992. Ricky Roesli juga tercatat sebagai salah satu pendiri SEFAS dan kini menjabat sebagai direktur utama.

Hubungan SEFAS dengan Shell juga bukan baru terjalin karena pengambilalihan bisnis SPBU. Perusahaan tersebut telah lama bergerak dalam distribusi pelumas Shell di Indonesia.

Shell, dalam pengumuman resmi mengenai pengalihan bisnis SPBU pada 2025, menyebut Sefas Group sebagai distributor pelumas Shell terbesar di Indonesia. Pengalihan bisnis SPBU tersebut, menurut Shell, tidak mencakup bisnis pelumas yang tetap berada dalam portofolio Shell Indonesia.

Jejak hubungan itu juga terlihat dari jaringan distribusi pelumas Shell. Pada laman resmi distributor pelumasnya, Shell mencantumkan sejumlah perusahaan yang berada dalam jaringan SEFAS, antara lain PT Sefas Keliantama dan PT Sinergi Semesta Pratama.

Menariknya, nama perusahaan itu sendiri membawa jejak yang dekat dengan dunia religius Herman. SEFAS berasal dari kata Yunani cephas, yang berarti batu atau batu karang.

Penjelasan di situs resmi SEFAS menyebut nama tersebut dipilih sebagai bagian dari landasan nilai perusahaan. Konsep batu atau karang kemudian dikaitkan dengan nilai etika yang diterapkan dalam sistem manajemen dan kegiatan operasional perusahaan.

Nilai tersebut tidak berhenti sebagai simbol keagamaan. Dalam dunia usaha, ia diterjemahkan ke dalam bahasa yang lebih universal, kepercayaan, etika, kepatuhan, profesionalisme, dan hubungan jangka panjang dengan mitra.

Di sinilah perjalanan Herman menjadi menarik. Pelayanan sebagai pastor tidak membuatnya meninggalkan dunia bisnis, sebagaimana kesibukan bisnis tidak menghapus aktivitas pelayanannya.

Catatan profil profesional Herman kembali memperlihatkan persinggungan dua dunia itu. Di satu sisi, ia tercatat sebagai Pendeta di IFGF sejak 1998. Di sisi lain, ia berada dalam jajaran manajemen SEFAS sebagai komisaris.

Bagi perusahaan seperti SEFAS, kepercayaan tidak dibangun dalam satu transaksi. Hubungan bisnis dengan perusahaan multinasional seperti Shell membutuhkan konsistensi terhadap standar, jaringan distribusi, kemampuan operasional, serta pemahaman terhadap pasar lokal.

Shell sendiri memberi gambaran mengenai hubungan tersebut. Dalam pengumuman transaksi, perusahaan menyebut Sefas Group sebagai distributor pelumas Shell terbesar di Indonesia. Pengalaman di pasar lokal dan hubungan bisnis yang telah terjalin menjadi bagian dari konteks yang mengiringi masuknya SEFAS ke bisnis ritel energi.

Akuisisi ini sekaligus mengubah posisi SEFAS. Perusahaan yang selama bertahun-tahun dikenal melalui bisnis distribusi pelumas kini masuk lebih jauh ke bisnis ritel energi yang langsung bersentuhan dengan konsumen.

Perjalanan Herman Soegeng di SEFAS memperlihatkan persinggungan antara aktivitas pelayanan keagamaan dan perjalanan bisnis yang telah berlangsung sejak akhir 1990-an. Kini, melalui kesepakatan pengambilalihan bisnis SPBU Shell di Indonesia, SEFAS memasuki babak baru di sektor ritel energi, sementara Herman tetap tercatat dalam jajaran manajemen perusahaan dan aktif dalam pelayanan IFGF.

Bagikan artikel ini:

Nick Irwan

Nick Irwan

Jurnalis

Jurnalis berdedikasi dengan fokus pada berita investigasi dan human interest.

Komentar (0)

Login untuk memberikan komentar

Silakan login terlebih dahulu untuk memberikan komentar pada artikel ini.

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama memberikan komentar!

Kategori Terkait