Partai yang Terlalu Serius
Nick Irwan
Jurnalis
Fenomena partai satire Denmark mengingatkan bahwa krisis terbesar politik bukan kekalahan dalam pemilu, melainkan hilangnya kepercayaan publik. Tanpa kepercayaan, demokrasi hanya menyisakan prosedur tanpa makna.
SLNpost, Jakarta- Di Denmark, seorang komedian pernah berhasil mempermalukan politik dengan cara yang paling elegan, ikut menjadi politisi. Namanya Jacob Haugaard. Pada 1979 ia mendirikan sebuah partai bernama Persatuan Unsur-Unsur Malas Bekerja yang Berhati Nurani (SABAE). Nama yang terdengar seperti hasil rapat panitia setelah tiga termos kopi dan dua malam kurang tidur.
Janji kampanyenya lebih menarik lagi. Ia menjanjikan angin searah untuk semua pesepeda, cuaca yang lebih baik, lebih banyak roti untuk bebek di taman kota, hingga Nutella di dalam ransum serdadu. Aneh bin absurd. Lalu sesuatu yang lebih aneh terjadi. Rakyat memilihnya.
Pada Pemilu 1994, Haugaard memperoleh lebih dari 23 ribu suara dan duduk di parlemen Denmark. Ia menjadi anggota legislatif sungguhan setelah bertahun-tahun menawarkan program-program yang bahkan tidak berusaha terlihat masuk akal. Namun justru di situlah letak kejeniusannya.
Ia sedang menyampaikan sebuah kritik yang sederhana, jika politik terus-menerus menjual janji yang sulit diwujudkan, apa bedanya politisi dengan pelawak? Tiga puluh tahun kemudian, pertanyaan itu tampaknya menemukan rumah yang nyaman di berbagai negara, termasuk Indonesia. Bedanya, di sini pelawak sering kali lebih jujur daripada politisi.
Politik Indonesia sesungguhnya tidak sedang kekurangan partai. Yang langka adalah kepercayaan. Survei Indikator Politik Indonesia dalam beberapa tahun terakhir secara konsisten menunjukkan partai politik berada di kelompok terbawah institusi yang dipercaya publik. Pada 2026, tingkat kepercayaan publik terhadap partai politik hanya berada di kisaran 54-61 persen, jauh di bawah institusi seperti TNI, Presiden, maupun Kejaksaan Agung. Bahkan sekitar empat dari sepuluh warga menyatakan kurang percaya atau tidak percaya kepada partai politik. Angka itu sesungguhnya bukan statistik. Ia adalah vonis.
Sebab dalam negara demokrasi, partai politik seharusnya menjadi jembatan antara rakyat dan kekuasaan. Tetapi ketika jembatan itu mulai retak, publik tidak lagi melihat partai sebagai kendaraan aspirasi. Mereka melihatnya sebagai kendaraan karier. Yang diperjuangkan bukan gagasan. Melainkan posisi. Yang dipertahankan bukan ideologi. Melainkan elektabilitas. Yang diperebutkan bukan masa depan bangsa. Melainkan masa depan koalisi.
Dalam situasi demikian, partai politik perlahan berubah menjadi perusahaan jasa yang bergerak di bidang pencalonan. Ironisnya, partai-partai Indonesia sebenarnya terlalu serius. Mereka terlalu serius membicarakan strategi. Terlalu serius membicarakan peta kekuasaan. Terlalu serius menghitung peluang menang. Tetapi kurang serius membicarakan mengapa publik semakin sulit mempercayai mereka.
Mungkin karena rakyat terlalu sering menyaksikan politisi berpindah kubu dengan kecepatan yang membuat fisika kehilangan relevansi. Mungkin karena ideologi kini lebih mirip seragam sepak bola, dipakai sesuai klub yang sedang memberi kontrak terbaik. Atau mungkin karena publik mulai menyadari bahwa dalam banyak kesempatan, perdebatan politik hanya berbeda pada logo dan warna spanduk. Sisanya hampir sama.
Jacob Haugaard pernah pensiun dari politik dengan alasan yang terdengar seperti punchline komedi terbaik dalam sejarah demokrasi. Ia mengatakan bahwa mengurus negara terlalu serius untuk terus dijadikan bahan lelucon. Kalimat itu terasa lucu. Sampai kita membandingkannya dengan kenyataan.
Di Denmark, partai satire masuk parlemen untuk mengkritik politik yang terlalu banyak janji. Di Indonesia, kadang-kadang publik justru kesulitan membedakan mana partai satire dan mana partai sungguhan. Yang satu menjanjikan angin searah bagi pesepeda. Yang lain menjanjikan berbagai hal yang terdengar masuk akal saat kampanye, tetapi menguap setelah penghitungan suara selesai. Tentu demokrasi membutuhkan partai politik. Tidak ada demokrasi modern yang bisa hidup tanpa mereka. Namun demokrasi juga membutuhkan sesuatu yang lebih penting, kepercayaan. Dan kepercayaan tidak lahir dari baliho. Ia tidak muncul dari slogan. Ia tidak tumbuh dari perang tagar di sosial media. Kepercayaan lahir ketika rakyat melihat konsistensi antara kata dan perbuatan.
Masalahnya, politik kita terlalu lama memproduksi kata-kata dan terlalu sedikit menghasilkan bukti. Mungkin karena itu publik belum sepenuhnya meninggalkan partai politik, tetapi juga belum sepenuhnya mempercayainya. Hubungan keduanya kini menyerupai pasangan yang tetap bersama bukan karena cinta yang besar, melainkan karena belum menemukan alternatif. Dan itu sesungguhnya kabar yang lebih mengkhawatirkan daripada kekalahan dalam pemilu mana pun. Sebab ketika rakyat mulai menganggap politik sebagai lelucon, yang sedang kehilangan martabat bukan hanya partai politik. Melainkan demokrasi itu sendiri. (NI)
Nick Irwan
Jurnalis
Jurnalis berdedikasi dengan fokus pada berita investigasi dan human interest.
Komentar (0)
Login untuk memberikan komentar
Silakan login terlebih dahulu untuk memberikan komentar pada artikel ini.
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama memberikan komentar!
Kategori Terkait
Tagar Terkait
Artikel Terkait
Artikel Lainnya
Kolaborasi ATR/BPN dan IPPAT: Kunci Transformasi Layanan Pertanahan yang Transparan dan Akuntabel
23 Sep 2025, 05:16 WIB
HDN 2025: Papua Dipilih jadi Mercusuar Doa dan Penginjilan Global
22 Apr 2025, 05:31 WIB
Kementerian ATR/BPN Upayakan Peningkatan Investasi dan Ekonomi Nasional
19 May 2023, 09:55 WIB
Menteri PANRB di SPBE Summit: Digitalisasi Jadi Kunci, Tapi Jangan Berlomba Bikin Aplikasi Baru
22 Mar 2023, 06:58 WIB
Habib Zaidan Yahya Rilis Single Religi “Sekar Langit,” Ungkapan Cinta pada Rasulullah
01 Dec 2024, 07:26 WIB
Menteri ATR/Kepala BPN Serahkan Sertifikat, Tanah di Desa Winong Cirebon 100% Tersertipikasi
09 May 2023, 13:40 WIB
Artikel Terkait
Artikel Lainnya
Kolaborasi ATR/BPN dan IPPAT: Kunci Transformasi Layanan Pertanahan yang Transparan dan Akuntabel
23 Sep 2025, 05:16 WIB
HDN 2025: Papua Dipilih jadi Mercusuar Doa dan Penginjilan Global
22 Apr 2025, 05:31 WIB
Kementerian ATR/BPN Upayakan Peningkatan Investasi dan Ekonomi Nasional
19 May 2023, 09:55 WIB
Menteri PANRB di SPBE Summit: Digitalisasi Jadi Kunci, Tapi Jangan Berlomba Bikin Aplikasi Baru
22 Mar 2023, 06:58 WIB
Habib Zaidan Yahya Rilis Single Religi “Sekar Langit,” Ungkapan Cinta pada Rasulullah
01 Dec 2024, 07:26 WIB
Menteri ATR/Kepala BPN Serahkan Sertifikat, Tanah di Desa Winong Cirebon 100% Tersertipikasi
09 May 2023, 13:40 WIB


