Iklan
Beranda / Religi
📰 RELIGI

Eclesia Domestica, Ketika Rumah Menjadi Tempat Pertama Kasih Dinyatakan

Nick Irwan

Nick Irwan

Jurnalis

📅 15 Jul 2026
⏱️ 19:58 WIB
⏱️ 4 min read
Eclesia Domestica, Ketika Rumah Menjadi Tempat Pertama Kasih Dinyatakan

Saat kesehatan mental menjadi perhatian, keluarga kembali dipandang sebagai tempat pertama seseorang belajar dikasihi. Mengapa hal itu penting?

SLNpost, BALIKPAPAN — Pembahasan mengenai keluarga menjadi salah satu materi yang mendapat perhatian dalam rangkaian Nusantara Konferensi Doa dan Seminar Hari Doa Nasional 2026 di Bukit Doa Nusantara, Balikpapan, awal Juli lalu. Saat berbagai sesi membahas doa, penginjilan, dan keesaan gereja, pembicaraan mengenai kesehatan mental keluarga justru memunculkan respons luas dari peserta karena dinilai berkaitan langsung dengan persoalan yang banyak dihadapi masyarakat.

Materi tersebut disampaikan dr. Cissie Nugraha, M.Sc., MARS melalui tema Kesehatan Mental dalam Ketahanan Keluarga. Ia mengaitkan pembahasan keluarga dengan meningkatnya perhatian dunia terhadap kesehatan mental, sekaligus menempatkan keluarga sebagai lingkungan pertama yang berperan membentuk kondisi psikologis seseorang.

Data World Health Organization (WHO) menunjukkan sekitar satu dari delapan penduduk dunia hidup dengan gangguan mental. Sementara Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023 yang diterbitkan Kementerian Kesehatan mencatat persoalan kesehatan mental pada remaja menjadi isu yang membutuhkan keterlibatan keluarga, sekolah, serta lingkungan sosial.

Dalam paparannya, dr. Cissie menilai keluarga tidak hanya berfungsi memenuhi kebutuhan fisik, tetapi juga menjadi ruang pertama tempat seseorang memperoleh rasa aman, diterima, dan didengar. Menurutnya, ketahanan mental dalam keluarga tidak dibangun melalui nasihat semata, melainkan melalui pola komunikasi, perhatian, dan kebiasaan hidup yang dijalankan setiap hari.

Pembahasan tersebut kemudian dikaitkan dengan konsep Ecclesia Domestica, istilah yang berasal dari tradisi Gereja mula-mula dan secara harfiah berarti gereja rumah tangga. Istilah itu merujuk pada keluarga sebagai komunitas iman pertama, tempat nilai kasih, pengampunan, serta tanggung jawab dipraktikkan sebelum seseorang mengenal kehidupan bermasyarakat yang lebih luas.

Konsep itu memiliki dasar yang panjang dalam Alkitab. Dalam Ulangan 6:6–7, orang tua diminta mengajarkan firman Tuhan kepada anak-anak "berulang-ulang" dalam keseharian, baik ketika berada di rumah maupun dalam perjalanan. Ayat tersebut menunjukkan bahwa pendidikan karakter dan iman dimulai dari percakapan sehari-hari di lingkungan keluarga.

Perjanjian Baru juga menempatkan rumah sebagai bagian penting dalam pertumbuhan jemaat mula-mula. Sejumlah surat Rasul Paulus menyebut keberadaan jemaat yang berkumpul di rumah-rumah, antara lain dalam Roma 16:5, Kolose 4:15, dan Filemon 1:2. Rumah tidak hanya dipandang sebagai tempat tinggal, tetapi juga ruang membangun persekutuan, saling menguatkan, dan memelihara kehidupan rohani.

Pemahaman itu kemudian berkembang dalam tradisi Kekristenan dengan istilah Ecclesia Domestica, yang menempatkan keluarga sebagai fondasi kehidupan bergereja. Dalam keluarga, nilai kasih tidak berhenti sebagai ajaran, melainkan diwujudkan melalui relasi antara suami, istri, orang tua, dan anak.

Prinsip tersebut juga tampak dalam Efesus 5:25, ketika Rasul Paulus menasihatkan para suami untuk mengasihi istri sebagaimana Kristus mengasihi jemaat. Sementara Kolose 3:21 mengingatkan para orang tua agar tidak membangkitkan sakit hati anak-anak sehingga mereka kehilangan semangat. Kedua bagian itu memperlihatkan bahwa relasi keluarga dibangun melalui penghargaan, tanggung jawab, dan kasih yang diwujudkan dalam tindakan.

Dr. Cissie menjelaskan, perkembangan ilmu saraf (neuroscience) juga memperlihatkan bahwa manusia membutuhkan relasi yang sehat untuk menjaga kondisi psikologisnya. Paparan informasi yang berlebihan tanpa diimbangi ruang beristirahat maupun hubungan sosial yang baik dapat memengaruhi kesehatan mental seseorang.

Karena itu, ia mendorong keluarga membangun kebiasaan yang membantu menjaga kesehatan mental, seperti membatasi paparan informasi yang tidak bermanfaat, memperbanyak komunikasi, membangun pikiran positif, berdoa, membaca Alkitab, dan menciptakan lingkungan pergaulan yang saling menguatkan.

Materi tersebut mengutip Filipi 4:7–8 yang berbicara mengenai damai sejahtera Allah yang memelihara hati dan pikiran, sekaligus mengajak setiap orang memusatkan perhatian kepada segala sesuatu yang benar, mulia, adil, suci, dan patut dipuji.

Selain membahas kesehatan mental, seminar juga mengangkat tema Keesaan Gereja di Nusantara yang menghadirkan perwakilan PGI, PGLII, dan PGPI. Diskusi itu menyoroti pentingnya kerja sama antargereja dalam menjawab persoalan masyarakat, termasuk isu keluarga, pendidikan, kesehatan, dan pelayanan sosial.

Rangkaian seminar menjadi bagian dari Hari Doa Nasional 2026 yang menghadirkan sejumlah pembicara, antara lain Pdt. Dr. Gomar Gultom, Pdt. Dr. Ronny Mandang, Pdt. Tommy Lengkong, Pdt. Dr. Darwin Darmawan, Pdt. Hanok Pailit, serta dr. Cissie Nugraha.

Pembahasan mengenai keluarga menjadi salah satu materi yang paling banyak diperbincangkan karena menyentuh persoalan yang dihadapi banyak rumah tangga saat ini. Ketika isu kesehatan mental semakin sering menjadi perhatian, keluarga kembali dipandang bukan sekadar tempat tinggal, melainkan ruang pertama tempat seseorang belajar tentang kasih, kepedulian, penghargaan, dan ketahanan menghadapi berbagai persoalan hidup.

Bagi tradisi Kekristenan, konsep Ecclesia Domestica mengingatkan bahwa kekuatan sebuah keluarga tidak hanya diukur dari kemampuan memenuhi kebutuhan ekonomi, tetapi juga dari bagaimana setiap anggotanya mengalami kasih yang nyata dalam kehidupan sehari-hari. Sebab, bagi banyak orang, rumah adalah tempat pertama seseorang mengenal apa arti diterima, dihargai, dan dikasihi.

Bagikan artikel ini:

Nick Irwan

Nick Irwan

Jurnalis

Jurnalis berdedikasi dengan fokus pada berita investigasi dan human interest.

Komentar (0)

Login untuk memberikan komentar

Silakan login terlebih dahulu untuk memberikan komentar pada artikel ini.

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama memberikan komentar!

Kategori Terkait