Iklan
Beranda / Hiburan
🎬 HIBURAN

Europe on Screen 2026 Dorong Lahirnya Talenta Baru Perfilman Indonesia

Elly Wati Simatupang

Elly Wati Simatupang

Jurnalis

📅 17 Jun 2026
⏱️ 15:15 WIB
⏱️ 3 min read
Europe on Screen 2026 Dorong Lahirnya Talenta Baru Perfilman Indonesia

Europe on Screen 2026 menegaskan perannya sebagai diplomasi budaya dan inkubator sineas muda Indonesia. Sebanyak 202 proposal film pendek bersaing dalam SFPP 2026.

SLNPost, JAKARTA – Europe on Screen (EoS) 2026 kembali menegaskan posisinya bukan sekadar festival film, melainkan ruang diplomasi budaya dan pengembangan ekosistem perfilman Indonesia. Selama 11 hari penyelenggaraan, festival film Eropa tertua di Indonesia ini menghadirkan puluhan karya sinema internasional sekaligus membuka peluang bagi sineas muda Tanah Air untuk berkembang.

Festival yang resmi ditutup pada Minggu (14/6/2026) di Cinepolis Senayan Park, Jakarta, mencatat antusiasme tinggi masyarakat di delapan kota, yakni Jakarta, Bandung, Denpasar, Medan, Surabaya, Semarang, Sidoarjo, dan Yogyakarta.

Pada edisi ke-26, Europe on Screen menghadirkan 55 film dari 28 negara Eropa secara gratis bagi publik. Beragam karya tersebut menampilkan perspektif tentang kemanusiaan, keberagaman, hingga dinamika sosial masyarakat Eropa kontemporer.

Duta Besar Uni Eropa untuk Indonesia Denis Chaibi menilai film memiliki kekuatan sebagai jembatan antarbudaya yang mampu memperluas perspektif dan mendorong dialog lintas negara.

“Europe on Screen menunjukkan kekuatan film sebagai jembatan antarbudaya, memperluas perspektif dan menginspirasi dialog bermakna,” ujar Denis Chaibi.

Menurutnya, antusiasme penonton Indonesia menunjukkan tingginya rasa ingin tahu dan keterbukaan terhadap keberagaman budaya Eropa. Festival ini sekaligus memperkuat kemitraan antara Uni Eropa dan Indonesia melalui jalur kebudayaan.

Tak hanya menjadi ajang pemutaran film internasional, EoS juga memperlihatkan komitmennya dalam membangun generasi baru sineas Indonesia melalui program Short Film Pitching Project (SFPP) 2026.

Tahun ini, SFPP menerima 202 proposal dari berbagai daerah di Indonesia. Setelah melalui proses seleksi, 10 finalis berkesempatan mempresentasikan ide film mereka di hadapan dewan juri yang terdiri atas Marlina Machfud, Asmara Abigail, dan Ifan Ismail.

Ko-Direktur EoS 2026 Meninaputri Wismurti mengatakan ide-ide yang masuk menunjukkan keberanian sineas muda dalam mengangkat isu sosial melalui pendekatan sinematik yang segar dan personal.

Program tersebut mendapat dukungan dari Kementerian Kebudayaan RI. Wakil Menteri Kebudayaan Giring Ganesha Djumaryo menegaskan bahwa investasi terhadap talenta muda menjadi kunci masa depan industri perfilman nasional.

“Fokus utama kami adalah berinvestasi pada talenta muda karena masa depan sinema Indonesia ada di tangan mereka,” kata Giring.

Adapun pemenang pertama SFPP 2026 diraih oleh proyek film pendek “Lunchtime Monsters” karya Gerry Fairus dan Dhita Intani dari Jakarta. Proyek tersebut memperoleh total dukungan senilai Rp39,67 juta untuk proses produksi dan pascaproduksi.

Posisi kedua diraih “Catatan Si Kumal” karya Aryudha Fasha dan Alen Prima Aulya dari Sidoarjo, sedangkan posisi ketiga diraih “Karina in Male Dominated Field” karya Mahaputri Adinda, Jazon Ezra Maail, dan Ammara Shifa Uzma dari Tangerang.

Dewan juri menilai karya-karya pemenang menghadirkan keberanian dalam mengangkat isu sosial, kesetaraan gender, hingga eksplorasi bentuk penceritaan baru dalam film pendek.

Sementara itu, film drama coming-of-age asal Rumania, “Atlas of the Universe” (Atlasul Universului), dipilih sebagai film penutup festival. Disutradarai Paul Negoescu, film tersebut sebelumnya tayang perdana di Berlinale 2026 dalam program Generation Kplus dan meraih Honourable Mention untuk kategori Best Film Generation Kplus.

Duta Besar Rumania untuk Indonesia Dan Adrian Bălănescu mengatakan film tersebut mengajak penonton melihat dunia melalui perspektif anak-anak yang penuh rasa ingin tahu dan empati.

Selama sembilan tahun penyelenggaraannya, SFPP telah melahirkan sejumlah film pendek yang diputar dan diapresiasi di berbagai festival nasional maupun internasional. Hal ini menunjukkan bahwa Europe on Screen tak hanya menjadi ruang apresiasi film, tetapi juga inkubator penting bagi lahirnya sineas masa depan Indonesia.

Berakhirnya EoS 2026 meninggalkan lebih dari sekadar pengalaman sinematik. Festival ini memperkuat dialog lintas budaya, membuka ruang kolaborasi kreatif, dan menegaskan bahwa film tetap menjadi medium yang efektif untuk menghubungkan masyarakat dari berbagai latar belakang.

Bagikan artikel ini:

Elly Wati Simatupang

Elly Wati Simatupang

Jurnalis

Pendiri Suara Lintas Indonesia

Komentar (0)

Login untuk memberikan komentar

Silakan login terlebih dahulu untuk memberikan komentar pada artikel ini.

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama memberikan komentar!

Kategori Terkait