Iklan
Beranda / Gaya Hidup
📰 GAYA HIDUP

Ruang Seni Belum Ramah untuk Semua Anak?

Nick Irwan

Nick Irwan

Jurnalis

📅 17 Jul 2026
⏱️ 15:27 WIB
⏱️ 5 min read
Ruang Seni Belum Ramah untuk Semua Anak?

Anak juga memiliki hak untuk menikmati ruang kebudayaan, termasuk seni pertunjukan, tanpa harus memenuhi standar perilaku yang sama.

SLNpost, JAKARTA — Di banyak gedung pertunjukan, penonton diharapkan duduk tenang hingga tirai ditutup. Anak yang menangis biasanya segera diajak keluar. Anak yang berjalan di lorong tempat duduk kerap dianggap mengganggu jalannya pertunjukan. Bagi sebagian keluarga yang memiliki anak dalam spektrum autisme, aturan yang tak tertulis itu sering kali menjadi alasan untuk tidak datang ke teater atau bahkan ke ruang publik.

Pengalaman berbeda justru dialami pendiri Regina Art, Joane Win, ketika menyaksikan dibanyak pertunjukan di luar negeri. Seorang anak yang berlari ke depan panggung, sementara para pemain tetap melanjutkan adegan tanpa menghentikan pertunjukan ataupun memperlihatkan keberatan. Penonton pun tetap menikmati cerita. Peristiwa sederhana itu mengubah cara pandangnya tentang siapa sebenarnya yang harus menyesuaikan diri di ruang seni pertunjukan.

Pengalaman itu menjadi salah satu pijakan lahirnya Fantasy Land, pertunjukan yang akan dipentaskan Regina Art bersama Indonesia Kaya pada 18 Juli 2026, besok di Galeri Indonesia Kaya, Jakarta, menyambut peringatan Hari Anak Nasional.

Namun, yang menarik bukan hanya pementasannya, melainkan pertanyaan yang dibawanya, mengapa aksesibilitas ruang seni di Indonesia masih lebih sering dimaknai sebagai akses fisik, sementara kebutuhan sensorik anak nyaris tak pernah dibicarakan?

Selama ini, pembahasan mengenai akses bagi penyandang disabilitas umumnya berfokus pada keberadaan jalur kursi roda, lift, atau toilet yang mudah dijangkau. Fasilitas tersebut memang penting. Namun bagi anak dengan autisme atau kondisi neurodivergen lainnya, tantangan sering kali muncul bukan pada pintu masuk gedung, melainkan ketika lampu dipadamkan, musik terdengar terlalu keras, atau suasana ruangan dipenuhi rangsangan yang sulit diproses secara bersamaan.

Dalam konferensi pers di Jakarta, Kamis (16/7), Joane mengatakan pengalaman itulah yang mendorong Regina Art merancang pertunjukan yang lebih ramah terhadap kebutuhan anak-anak berkebutuhan khusus.

"Saya melihat di luar negeri, ketika ada anak yang berlari ke depan panggung, para pemain tetap melanjutkan pertunjukan. Anak itu tidak dianggap mengganggu. Dari situ saya belajar bahwa ruang seni juga bisa memberi tempat bagi cara anak mengekspresikan dirinya," ujar Joane.

Ia menilai anak berkebutuhan khusus selama ini masih menghadapi hambatan yang jarang terlihat. Bukan karena mereka tidak mampu menikmati pertunjukan, melainkan karena ruang pertunjukan dalam negeri belum banyak dirancang untuk mengakomodasi kebutuhan mereka.

"Kalau mereka membeli tiket yang sama, mereka juga berhak mendapatkan pengalaman menonton yang sama nyamannya," katanya.

Dalam konferensi pers, Regina Art menjelaskan bahwa Fantasy Land dirancang sebagai pertunjukan yang ramah bagi anak dengan autisme. Para pemain juga dipersiapkan untuk tetap melanjutkan pertunjukan apabila ada anak yang berdiri, berjalan ke depan panggung, atau mengekspresikan diri dengan cara yang berbeda selama pementasan berlangsung. Pendekatan itu dipilih agar anak-anak dapat menikmati pertunjukan tanpa merasa menjadi gangguan bagi penonton lain.

Dalam praktik seni pertunjukan internasional, pendekatan yang memberi ruang bagi kebutuhan penonton dengan sensitivitas sensorik dikenal sebagai sensory-friendly performance. Dikutip redaksi dari The Kennedy Center dan National Theatre di London, konsep tersebut umumnya diterapkan melalui berbagai penyesuaian, seperti pengaturan pencahayaan, volume suara, serta kebijakan yang lebih fleksibel terhadap respons penonton selama pertunjukan. Meski setiap penyelenggara memiliki pendekatan yang berbeda, tujuan utamanya sama, yakni memperluas akses agar lebih banyak anak dapat menikmati pengalaman berkesenian.

Persoalan kebutuhan sensorik sebenarnya telah lama menjadi perhatian kalangan kesehatan. Menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) yang dikutip redaksi SLNpost dari laman resmi WHO (diakses 17/07), sekitar satu dari 100 anak berada dalam spektrum autisme.

WHO menjelaskan bahwa individu autistik dapat memiliki sensitivitas berbeda terhadap suara, cahaya, tekstur, sentuhan, maupun keramaian. Lingkungan yang tidak mempertimbangkan kebutuhan tersebut berpotensi memicu kecemasan atau sensory overload, yakni kondisi ketika otak menerima rangsangan sensorik melebihi kapasitasnya untuk memproses informasi.

Penjelasan serupa disampaikan Autism Speaks. Dikutip redaksi SLNpost dari Autism Speaks (diakses 17/07), saat mengalami sensory overload, sebagian anak dapat menutup telinga, menangis, berjalan menjauh, atau menunjukkan respons lain sebagai mekanisme tubuh untuk mengurangi tekanan dari lingkungan sekitar. Respons tersebut bukan bentuk ketidakdisiplinan, melainkan cara individu mengelola rangsangan yang berlebihan.

Perspektif itu membuat perilaku anak di ruang publik dapat dipahami secara berbeda. Apa yang selama ini dianggap mengganggu, dalam banyak kasus justru merupakan bentuk adaptasi terhadap kondisi sensorik yang tidak nyaman.

Hak anak untuk menikmati kebudayaan juga mendapat pengakuan dalam hukum internasional. Dikutip redaksi SLNpost dari Konvensi Hak Anak Perserikatan Bangsa-Bangsa (Convention on the Rights of the Child/CRC) yang telah diratifikasi Indonesia melalui Keputusan Presiden Nomor 36 Tahun 1990, Pasal 31 menyatakan setiap anak berhak beristirahat, bermain, berpartisipasi dalam kegiatan rekreasi, serta mengambil bagian secara bebas dalam kehidupan budaya dan kesenian.

Sementara itu, Undang-Undang Nomor 8 Tahun 2016 tentang Penyandang Disabilitas juga menjamin hak penyandang disabilitas untuk memperoleh akses terhadap kegiatan kebudayaan, olahraga, dan rekreasi tanpa diskriminasi.

Bagi sutradara Kemal Ferdiansyah, isu tersebut bukan hanya menyangkut teknis pementasan, tetapi juga cara orang dewasa memandang dunia anak.

Menurut Kemal, banyak orang tua tanpa sadar menginginkan anak mengikuti standar perilaku orang dewasa, termasuk ketika berada di ruang publik.

"Anak-anak memiliki cara sendiri untuk menikmati dunia. Kadang kita terlalu cepat meminta mereka menyesuaikan diri, padahal mungkin justru kita yang perlu belajar melihat dari sudut pandang mereka," ujarnya.

Pandangan itu kemudian diterjemahkan ke dalam pendekatan penyutradaraan pada pementasan Fantasy Land. Para pemain tidak diarahkan untuk menghentikan adegan ketika muncul respons spontan dari penonton anak. Mereka justru dilatih agar tetap menjaga alur cerita tanpa menghilangkan ruang bagi anak untuk bereaksi secara alami.

Pendekatan tersebut memperlihatkan bahwa inklusivitas tidak selalu berarti mengubah isi pertunjukan. Yang berubah justru cara ruang pertunjukan merespons keberagaman penontonnya.

Pengalaman yang dibawa Fantasy Land menggeser arah percakapan. Bukan lagi semata-mata mengenai kemampuan anak mengikuti aturan yang berlaku di gedung pertunjukan, melainkan sejauh mana ruang seni bersedia menyesuaikan diri terhadap keberagaman cara manusia menikmati sebuah pertunjukan.

Menjelang Hari Anak Nasional, pertanyaan itu terasa semakin relevan. Sebab akses terhadap kebudayaan bukan hanya soal pintu yang terbuka, melainkan juga tentang apakah setiap anak merasa diterima ketika sudah berada di dalamnya.

Bagikan artikel ini:

Nick Irwan

Nick Irwan

Jurnalis

Jurnalis berdedikasi dengan fokus pada berita investigasi dan human interest.

Komentar (0)

Login untuk memberikan komentar

Silakan login terlebih dahulu untuk memberikan komentar pada artikel ini.

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama memberikan komentar!

Kategori Terkait