Tak Ada Nasi, Tak Ada Jalan Pulang
Elly Wati Simatupang
Jurnalis
[caption id="attachment_5169" align="alignnone" width="1024"] Kalimat “tidak ada nasi di rumah” bekerja sebagai penjelasan sekaligus tudingan. Ia merangkum persoalan panjang tentang kemiskinan, perlindungan sosial, dan k...
[caption id="attachment_5169" align="alignnone" width="1024"]
Kalimat “tidak ada nasi di rumah” bekerja sebagai penjelasan sekaligus tudingan. Ia merangkum persoalan panjang tentang kemiskinan, perlindungan sosial, dan keselamatan anak ke dalam satu sebab yang sulit disangkal. Ilustrasi Gambar: Istimewa.[/caption]
Oleh: Nick Irwan/Redaksi
Sebuah video beredar luas di media sosial sejak akhir pekan lalu. Seorang perempuan terduduk di aspal, memeluk tubuh kecil yang terbaring lemas di pangkuannya. Tangisnya pecah, berulang-ulang menyebut satu kalimat pendek, “di rumah tidak ada nasi”. Di sekelilingnya, kendaraan berhenti. Beberapa orang berdiri terpaku. Kamera ponsel merekam tanpa banyak kata.
Warganet kemudian mengaitkan peristiwa itu dengan seorang anak perempuan penjual tisu yang kerap terlihat di persimpangan jalan Kota Kendari, Sulawesi Tenggara. Dalam narasi yang menyertai unggahan video, anak tersebut disebut tertabrak alat berat saat berjualan tisu. Potongan cerita menyebar cepat, tentang pamit kepada ibu, tentang janji membawa pulang beras, tentang usia yang belum genap belasan tahun.
Unggahan lain memperlihatkan sudut lokasi dari jarak berbeda. Lampu merah, marka jalan, dan kerumunan warga menjadi latar yang berulang. Tak sedikit komentar mempertanyakan keberadaan alat berat di ruas jalan kota. Sebagian lain mempertanyakan mengapa seorang anak berada di jalanan pada malam hari. Namun mayoritas komentar berhenti pada satu alasan yang sama, diulang berkali-kali, karena tidak ada nasi di rumah.
Dari pengamatan redaksi atas percakapan digital, tragedi ini cepat bergeser dari peristiwa kecelakaan menjadi simbol kemiskinan dan kerentanan anak. Banyak pengguna media sosial membandingkannya dengan anak-anak lain yang bekerja di jalanan kota, menjual tisu, mengamen, atau meminta uang di lampu merah. Dalam arus komentar, empati bercampur kemarahan. Ada yang menyalahkan orang tua, ada yang menunjuk negara, ada pula yang mempertanyakan sikap warga sekitar yang memilih hanya merekam.
Media sosial hanya menyajikan fragmen. Video-video itu tidak memberi ruang untuk konteks yang utuh. Ia memadatkan tragedi menjadi potongan emosi, tangis, tubuh kecil, dan kalimat tentang nasi. Meski demikian, fragmen-fragmen itu cukup untuk menunjukkan satu kenyataan, bahwa seorang anak berada di ruang publik berisiko tinggi, menjalani aktivitas ekonomi demi memenuhi kebutuhan paling dasar.
Kalimat “tidak ada nasi di rumah” bekerja sebagai penjelasan sekaligus tudingan. Ia merangkum persoalan panjang tentang kemiskinan, perlindungan sosial, dan keselamatan anak ke dalam satu sebab yang sulit disangkal. Dalam peredaran cepat di linimasa, kalimat itu menjadi penanda dari absennya jalan pulang yang aman bagi seorang anak.
Peristiwa di Kendari menunjukkan bagaimana media sosial kini menjadi ruang pertama tempat tragedi dibaca dan dimaknai. Sebelum laporan resmi hadir, publik telah lebih dulu membentuk kesimpulan dan empati. Yang tersisa dari video-video itu bukan hanya duka seorang ibu, melainkan pertanyaan yang menggantung: mengapa seorang anak harus turun ke jalan agar keluarganya bisa makan. Pertanyaan itu berputar di layar, tanpa jawaban yang segera datang.
Elly Wati Simatupang
Jurnalis
Pendiri Suara Lintas Indonesia
Komentar (0)
Login untuk memberikan komentar
Silakan login terlebih dahulu untuk memberikan komentar pada artikel ini.
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama memberikan komentar!
Kategori Terkait
Tagar Terkait
Artikel Terkait
Artikel Lainnya
Opening GEM Indonesia Solartech Indonesia 2023, Lighting 2023, Battery & Energy Storage 2023, Smart Home
02 Mar 2023, 05:31 WIB
PC Pewarna Kota Bekasi Gelar Orasi Kebangsaan: Tri Adhianto Tegaskan Keberagaman sebagai Kekuatan yang Harus Dijaga
27 Sep 2024, 16:14 WIB
Viral Terbakar, Begini Kondisi Bus Transjakarta Milik Perum PPD Sebenarnya
10 May 2023, 09:57 WIB
Belajar Transformasi Digital untuk Layanan Publik yang Prima dari Negeri Kanguru
09 May 2023, 14:02 WIB
Dihari ke-4 Pewarna Berbagi Nasi Box untuk Pengendara di Latumeten Jakarta Barat
31 Mar 2024, 05:43 WIB
PGPI Rayakan HUT ke-45, Dihadiri Ribuan Jemaat di Rehobot Hall MAG
14 Sep 2024, 16:06 WIB
Artikel Terkait
Artikel Lainnya
Opening GEM Indonesia Solartech Indonesia 2023, Lighting 2023, Battery & Energy Storage 2023, Smart Home
02 Mar 2023, 05:31 WIB
PC Pewarna Kota Bekasi Gelar Orasi Kebangsaan: Tri Adhianto Tegaskan Keberagaman sebagai Kekuatan yang Harus Dijaga
27 Sep 2024, 16:14 WIB
Viral Terbakar, Begini Kondisi Bus Transjakarta Milik Perum PPD Sebenarnya
10 May 2023, 09:57 WIB
Belajar Transformasi Digital untuk Layanan Publik yang Prima dari Negeri Kanguru
09 May 2023, 14:02 WIB
Dihari ke-4 Pewarna Berbagi Nasi Box untuk Pengendara di Latumeten Jakarta Barat
31 Mar 2024, 05:43 WIB
PGPI Rayakan HUT ke-45, Dihadiri Ribuan Jemaat di Rehobot Hall MAG
14 Sep 2024, 16:06 WIB


