Iklan
Beranda / Sosial
📰 SOSIAL

Menolak Rebah di Usia Senja

Nick Irwan

Nick Irwan

Jurnalis

📅 26 Jul 2026
⏱️ 19:38 WIB
⏱️ 2 min read
Menolak Rebah di Usia Senja

Data BPS menunjukkan Indonesia telah memasuki era ageing population, menghadirkan tantangan besar dalam perlindungan sosial, kesehatan, dan kesejahteraan lanjut usia.

SLNpost, Kota Depok – Minggu, 26 Juli 2026, umat Katolik di berbagai negara memperingati Hari Kakek-Nenek dan Lansia Sedunia (World Day for Grandparents and the Elderly) yang keenam. Perayaan yang jatuh setiap Minggu keempat Juli ini berdekatan dengan pesta Santo Yoakim dan Santa Anna, yang dalam tradisi Gereja dikenal sebagai kakek dan nenek Yesus. Tahun ini, Vatikan mengangkat tema “Aku tidak akan melupakan engkau” (Yesaya 49:15), sebagai pengingat bahwa usia lanjut bukan alasan untuk disisihkan, melainkan tetap menjadi bagian penting dari kehidupan bersama.

Pesan ini terasa relevan dengan kondisi di Indonesia, di mana masa tua tidak selalu identik dengan waktu istirahat bersama keluarga. Di tengah meningkatnya angka harapan hidup, jutaan lansia masih harus bekerja, banyak di sektor informal yang rentan dan minim perlindungan.

Fenomena ini tampak di berbagai daerah. BPS mencatat Indonesia telah memasuki fase ageing population, dengan proporsi lansia mencapai 11,97 persen dari total penduduk (SUPAS 2025). Ini menandai perubahan besar dalam struktur demografi nasional.

Perubahan tersebut membawa dua sisi, meningkatnya harapan hidup, namun juga tantangan serius dalam layanan kesehatan, perlindungan sosial, dan pemenuhan hidup layak bagi kelompok lanjut usia.

Publikasi Statistik Penduduk Lanjut Usia 2025 BPS menunjukkan banyak lansia masih aktif bekerja, terutama di sektor pertanian, perdagangan, dan pekerjaan informal. Kondisi ini kerap bukan pilihan, melainkan dorongan kebutuhan ekonomi serta terbatasnya jaminan pensiun.

Selain persoalan ekonomi, tantangan lain juga mengemuka, tingkat pendidikan yang rendah, kondisi kesehatan yang rentan, serta ketergantungan pada keluarga. Akses terhadap perlindungan sosial pun belum merata di seluruh wilayah.

Dalam konteks ini, Hari Kakek-Nenek dan Lansia Sedunia tidak sekadar menjadi perayaan keagamaan. Paus Leo XIV menegaskan bahwa lansia tetap memiliki martabat, pengalaman, dan kontribusi yang tidak boleh diabaikan. Tema “Aku tidak akan melupakan engkau” menjadi penegasan bahwa mereka tetap berharga di tengah masyarakat.

Di Indonesia, pemerintah masih menghadapi pekerjaan besar dalam merespons ageing population, mulai dari sektor kesehatan, perlindungan sosial, hingga penyediaan lingkungan yang ramah lansia.

Faktanya, banyak lansia masih harus bertahan hidup dengan bekerja, berdagang kecil, bertani, ojek online hingga masih ada yang mengayuh becak, atau menjalankan usaha sederhana demi mencukupi kebutuhan harian.

Di balik keriput yang menua, tersimpan keteguhan yang tidak padam. Mereka menolak rebah, bukan semata karena pilihan, tetapi karena keadaan yang belum sepenuhnya berpihak.

Momentum ini menjadi pengingat bahwa menghormati lansia bukan hanya soal seremoni, melainkan memastikan mereka dapat menjalani hari tua dengan aman, sehat, dan bermartabat.

Bagikan artikel ini:

Nick Irwan

Nick Irwan

Jurnalis

Jurnalis berdedikasi dengan fokus pada berita investigasi dan human interest.

Komentar (0)

Login untuk memberikan komentar

Silakan login terlebih dahulu untuk memberikan komentar pada artikel ini.

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama memberikan komentar!

Kategori Terkait