Iklan
Beranda / Sosial
📰 SOSIAL

Jutaan Pemuda Terjebak NEET

Nick Irwan

Nick Irwan

Jurnalis

📅 29 Jul 2026
⏱️ 19:51 WIB
⏱️ 2 min read
Jutaan Pemuda Terjebak NEET

Hampir satu dari lima pemuda Indonesia masih berstatus NEET

SLNpost, Jakarta- Indonesia sedang menikmati bonus demografi, ketika jumlah penduduk usia produktif menjadi yang terbesar dalam sejarah. Namun, di tengah peluang tersebut, masih ada jutaan anak muda yang belum bekerja, tidak sedang bersekolah, maupun mengikuti pelatihan keterampilan.

Menurut BPS, kelompok NEET tidak hanya terdiri atas penganggur. Di dalamnya juga terdapat pemuda yang berhenti sekolah, belum memperoleh pekerjaan, tidak mengikuti pelatihan, maupun memilih mengurus rumah tangga.

Data Statistik Pemuda Indonesia 2025 juga menunjukkan persentase perempuan yang masuk kategori NEET masih lebih tinggi dibandingkan laki-laki. Salah satu penyebabnya adalah masih banyak perempuan muda yang mengurus rumah tangga sehingga tidak tercatat bekerja ataupun mengikuti pendidikan dan pelatihan.

Fenomena ini menjadi perhatian karena Indonesia oleh banyak pengamat diperkirakan masih berada dalam periode bonus demografi hingga beberapa tahun mendatang. Kondisi tersebut dinilai sebagai peluang untuk meningkatkan produktivitas apabila penduduk usia produktif memiliki akses terhadap pendidikan, pelatihan, dan lapangan kerja.

Di sisi lain, dunia usaha masih menghadapi tantangan dalam memperoleh tenaga kerja dengan keterampilan yang sesuai kebutuhan industri. Perubahan teknologi juga membuat sejumlah jenis pekerjaan berubah lebih cepat dibandingkan proses penyesuaian kompetensi lulusan.

Seorang pencari kerja berusia 23 tahun yang menolak namanya dicantumkan, mengaku telah mengirim puluhan lamaran sejak lulus kuliah tahun lalu. Beberapa kali mengikuti proses wawancara, namun belum berhasil memperoleh pekerjaan.

"Saya masih sih mencari pekerjaan sambil mengikuti pelatihan yang ada di YouTube, gratis," ujarnya kepada SLNpost ketika berbincang di warung kopi, Cibinong, Jawa Barat. Rabu (29/7).

Pemerintah melalui Kementerian Ketenagakerjaan terus menjalankan berbagai program peningkatan kompetensi, seperti pelatihan vokasi di Balai Latihan Kerja (BLK), program pemagangan, hingga platform SIAPKerja. Langkah tersebut diharapkan dapat membantu mempertemukan kebutuhan dunia usaha dengan pencari kerja.

Dikutip redaksi (29/7) dari laporan Indonesia Economic Outlook Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) serta publikasi Badan Pusat Statistik (BPS), penurunan angka NEET perlu diikuti dengan peningkatan kualitas pendidikan, perluasan pelatihan berbasis kebutuhan industri, dan penciptaan lapangan kerja formal untuk mengurangi kesenjangan kompetensi (skills mismatch). Tren penurunan tersebut diharapkan menjadi momentum bagi pemerintah untuk memaksimalkan bonus demografi melalui peningkatan partisipasi remaja dalam pendidikan, pelatihan maupun dunia kerja.

Bagikan artikel ini:

Nick Irwan

Nick Irwan

Jurnalis

Jurnalis berdedikasi dengan fokus pada berita investigasi dan human interest.

Komentar (0)

Login untuk memberikan komentar

Silakan login terlebih dahulu untuk memberikan komentar pada artikel ini.

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama memberikan komentar!

Kategori Terkait