Iklan
Beranda / Sosial
📰 SOSIAL

PAS atau PASRAH?

Nick Irwan

Nick Irwan

Jurnalis

📅 15 Jul 2026
⏱️ 19:28 WIB
⏱️ 5 min read
PAS atau PASRAH?

Bekerja dari pagi hingga malam, namun yang tersisa hanya cukup untuk esok hari. Saat hidup terus "pas", benarkah banyak orang mulai belajar "pasrah"?

SLNpost, Jakarta- "Pulang kerja, Mas?" Kalimat itu terdengar ringan. Hanya sapaan seorang pengemudi ojek online kepada penumpangnya.

Saya mengangguk sembari mengenakan helm. Motor matik berwarna hitam yang mulai kusam itu perlahan meninggalkan halte Stasiun Depok. Malam baru saja turun. Lampu-lampu kendaraan memantul di aspal yang masih menyimpan sisa panas siang hari.

Belum lima menit perjalanan, percakapan kami berubah menjadi sesuatu yang lebih mendalam. "Kalau sekarang nyari uang, rasanya makin pas, Mas." Ia tersenyum tipis. Bukan senyum orang yang sedang menikmati pekerjaannya, melainkan senyum yang lahir dari kebiasaan menerima keadaan.

Motor terus melaju membelah kemacetan. Sesekali telepon genggam yang terpasang di dashboard motor berbunyi pelan, menandakan ada pesanan baru yang belum tentu searah.

"Sebenarnya bukan enggak dapat uang. Masih dapat. Tapi ya... pas." Ia kembali mengucapkan kata itu. Pas. "Pas buat beli beras, pas buat bayar kontrakan, pas buat cicilan motor, pas buat urusan sekolah anak. Lewat dikit saja, langsung nombok", selorohnya lagi.

Lampu lalu lintas berubah merah. Kami berhenti. Ia menunjuk indikator bahan bakar yang mulai turun. "Motor saya sudah tua. Boros. Kadang baru beberapa order, saldo dompet digital sudah kepotong buat isi bensin."

Harga BBM mungkin hanya naik beberapa angka di papan SPBU. Namun, bagi pekerja yang hidup dari order harian, selisih ribuan rupiah bisa menentukan apakah hari itu masih menyisakan uang atau justru habis di jalan.

"Kadang penghasilan hari ini impas." Saya bertanya pelan. "Impas bagaimana?" "Ya uang masuk sama uang keluar hampir sama." Ia tertawa kecil. "Sekarang mau beli kopi sachet lima ribuan aja mikir." Kalimat itu terdengar sederhana. Namun justru di situlah persoalannya. Bukan karena kopi menjadi mahal. Melainkan karena ruang untuk menikmati hal-hal kecil mulai ikut menyempit. Percakapan seperti itu semakin mudah ditemukan. Di warung kopi. Di halte. Di pasar. Di ruang tunggu rumah sakit. Di media sosial.

Kalimat-kalimat seperti "tanggal tua setiap hari", "gaji cuma numpang lewat", hingga "asal cukup buat makan" muncul berulang kali dalam berbagai percakapan masyarakat. Tidak semua orang jatuh miskin. Tidak semua kehilangan pekerjaan. Tetapi semakin banyak yang merasa penghasilannya berhenti pada satu titik. Pas untuk bertahan hidup.

Fenomena tersebut beriringan dengan sejumlah indikator ekonomi yang menunjukkan perlambatan. Bank Indonesia mencatat Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) pada Juni 2026 berada di angka 117,8, turun dari 120,9 pada Mei. Penurunan itu menjadi yang ketiga secara berturut-turut sekaligus yang terendah sejak September 2025.

Sementara itu, Purchasing Managers' Index (PMI) Manufaktur Indonesia kembali berada di zona kontraksi pada level 46,9, menandakan aktivitas manufaktur masih mengalami tekanan. Data Badan Pusat Statistik (BPS) juga mencatat neraca perdagangan Indonesia mengalami defisit sebesar US$1,61 miliar, defisit pertama setelah enam tahun berturut-turut mencatat surplus.

Angka-angka tersebut memang belum menunjukkan Indonesia sedang mengalami krisis. Namun bagi sebagian masyarakat, perubahan ekonomi sering kali lebih dulu terasa di dapur daripada di laporan statistik. Pengeluaran rumah tangga berubah. Masyarakat mulai lebih selektif membeli kebutuhan sekunder.

Warung makan mengurangi ukuran porsi. Pedagang pasar mengaku pembeli lebih sering bertanya harga daripada membeli. Di beberapa kota, pelaku UMKM mulai menawarkan pembayaran bertahap atau promo sederhana agar pelanggan tetap datang.

Fenomena itu tidak hanya terjadi di Jakarta. Di berbagai daerah, cerita serupa muncul dengan wajah berbeda. Seorang pedagang gorengan mengurangi ukuran minyak dalam wajan agar lebih hemat. Pemilik kios kelontong mulai membeli stok sedikit demi sedikit. Petani mengurangi penggunaan pupuk karena harga produksi meningkat. Nelayan memilih tidak melaut ketika biaya solar dianggap lebih besar dibanding potensi hasil tangkapan.

Laporan World Economic Outlook Update yang diterbitkan Dana Moneter Internasional (IMF) pada Juli 2026 sebenarnya masih memberi ruang optimisme. IMF mempertahankan proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia sebesar 5 persen pada 2026. Proyeksi tersebut tetap dipertahankan meski ekonomi global dibayangi perlambatan akibat ketegangan geopolitik dan gangguan perdagangan internasional. Pemerintah juga menyampaikan optimisme serupa.

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menilai pelemahan sejumlah indikator ekonomi masih berada dalam batas yang wajar dan memperkirakan aktivitas ekonomi akan membaik pada semester kedua tahun ini. Harapan tersebut didasarkan pada potensi peningkatan konsumsi masyarakat, ekspor, serta aktivitas industri. Namun optimisme makro belum selalu identik dengan rasa aman di tingkat rumah tangga.

Ekonom CORE Indonesia, Yusuf Rendy Manilet, mengingatkan bahwa pelebaran defisit keseimbangan primer menunjukkan penerimaan negara belum sepenuhnya mampu membiayai belanja pokok sebelum pembayaran utang diperhitungkan. Menurutnya, kondisi itu masih dapat dikelola dalam jangka pendek. Namun, jika berlangsung terus-menerus, ruang fiskal pemerintah berpotensi semakin sempit. Di sisi lain, penerimaan negara juga masih dipengaruhi faktor-faktor yang bersifat siklikal seperti harga komoditas dan dividen BUMN. Bagi masyarakat, istilah seperti keseimbangan primer, defisit fiskal, atau kontraksi manufaktur mungkin terdengar jauh.

Yang mereka pahami jauh lebih sederhana. Harga cabai naik. Biaya sekolah bertambah. Kontrakan naik. Listrik harus dibayar. Anak meminta uang saku. Motor perlu servis. Dan semua itu datang pada tanggal yang sama. Pendapatan mereka tetap. Kalau pun naik, sering kali tidak secepat biaya hidup. Dalam ilmu ekonomi, kondisi tersebut dikenal sebagai menurunnya daya beli riil. Seseorang mungkin menerima jumlah gaji yang sama, tetapi barang dan jasa yang dapat dibeli menjadi lebih sedikit.

Di ruang keluarga, fenomena itu diterjemahkan dengan cara berbeda. Mengurangi lauk. Menunda membeli pakaian. Mengganti kopi kafe menjadi kopi sachet. Mengurangi perjalanan yang tidak penting. Bahkan menunda membawa anak berlibur. Keputusan-keputusan kecil itu menjadi cara rumah tangga beradaptasi. Di media sosial, muncul berbagai istilah yang menggambarkan keadaan tersebut. "Tanggal tua setiap hari." "Gaji mampir sebentar." "Hidup tinggal menghitung transaksi QRIS." Ungkapan itu memang terdengar jenaka. Namun, di balik humor, tersimpan kegelisahan yang nyata.

Saya kembali teringat percakapan di atas motor tadi. Driver itu tidak pernah menyebut dirinya miskin. Ia juga tidak mengeluhkan pemerintah. Tidak menyalahkan siapa pun. Ia hanya bercerita. Setiap hari ia harus menghitung ulang. Berapa liter bensin. Berapa order yang harus diselesaikan. Berapa rupiah yang tersisa sebelum pulang. "Kalau saya berhenti narik, keluarga makan apa?" Kalimat itu meluncur begitu saja.

Tanpa nada heroik. Tanpa dramatisasi. Lalu ia menambahkan satu kalimat yang terus teringat hingga saya menulis cerita ini. "Saya enggak bisa pasrah, Mas. Kalau pasrah... ya selesai." Mungkin, itulah makna paling sederhana dari kata "pas". Dan selama jutaan orang masih memilih tetap bekerja meski penghasilannya hanya cukup untuk bertahan, barangkali mereka belum benar-benar pasrah. Mereka hanya sedang berjuang agar hidup tidak berhenti pada kata pas. (NI)

Bagikan artikel ini:

Nick Irwan

Nick Irwan

Jurnalis

Jurnalis berdedikasi dengan fokus pada berita investigasi dan human interest.

Komentar (0)

Login untuk memberikan komentar

Silakan login terlebih dahulu untuk memberikan komentar pada artikel ini.

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama memberikan komentar!

Kategori Terkait